Di Sini Cara Pembuatan Website

Promosikan Usaha Anda di sini cuma Rp 250.000 / tahun!

Beberapa Karya Sastra Puisi Tentang Perjalanan Hidup

Ditulis oleh I Wayan Eka Senaya,2013

P U I S I ?

Saya bukan seorang penyair,saya juga bukan seorang penulis! saya hanya orang yang kebetulan mencintai puisi,sebagai bahasa ungkap saya.

Kenapa saya pilih puisi sebagai bahasa ungkap? Karena dengan puisi saya merasa leluasa mengekpresikan diri saya dengan apa adanya,mengenai apa yang terlintas dalam pikiran saya,apa yang menyentuh pikiran saya dan apa yang saya rasakan.

Puisi-puisi yang saya buat kebanyakan berdasarkan dari pengalaman kehidupan saya dan apa yang terjadi disekitar kehidupan saya,serta ada juga yang merupakan hasil olah pikir saya dan hayalan (daya imajinasi saya)seperti judul puisi UPS di bawah ini.

Sebenarnya saya merasa kecil hati untuk mempublikasikan puisi-puisi saya,akan tetapi ada sesuatu yang sulit saya bendung dari dalam diri saya yang bila semakin saya redam maka membuat hati saya semakin gelisah.Akhirnya saya berkeputusan apapun itu namanya,apapun itu bentuknya sudah semestinya diberikan media penyaluran,bukan hanya itu tentu saja butuh penghargaan walau sekecil apapun.Saya seperti seorang bapak yang kesana kemari mencari ya sekedar pengakuan kecil terhadap buah cinta saya ini. Makanya dengan segala kerendahan hati saya mengharafkan apresiasi kepada pembaca yang bijak mengenai karya-karya puisi saya berikut:

UPS!

Sayang,di pembaringan ini
Kisah seribu satu malam kita gelar
Kita jamukan bagi mata kita yang belum juga terpejam
Karena malam yang sepi nyaris mati
Hanya detak jarum jam dan jantung kita berpacu, sekeras pukulan palu
Tak ada suara lain kecuali rintih dipan tua, yang menyayat ulu hati

Dipannya memang sudah renta, sayang!
Kita mesti lebih pelan dan hati-hati!
Melepas kancing baju,menanggalkan malam disela tatapan gusarmu
Kita terlalu miskin
Hanya membeli dipan barupun tak mampu
Ya,itu juga karena negeri kita yang miskin pa! Suaramu kasar,sengit mencium gendang telingaku
Sebenarnya negeri kita sangat kaya dan bergaya namun sayang terlalu slebor
Atau mungkin terlalu genit
Tungkasku tak kalah sengit,sembari menatapmu penuh nafsu

Kau balik menatapku dengan nada tersinggung
Negeri yang malang
Di zalimi oleh anak-anaknya sendiri
Dicuri,dijarah secara serakah,dipecundangi
Ditelanjangi,dizinahi,lalu ditinggalkan, tergolek tiada daya
Dijelek-jelekan,difitnah,dan malah dimusuhi
Kau memekik tertahan,peluh meleleh di lehermu yang mulus
Melihatmu persis aku lihat negeri ini
Negeri yang cantik dan janda muda

Diperkosa oleh anak-anaknya sendiri,lalu melacurkannya kepada inpestor
Ibu masih cantik dan menarik,banyak kekayaan di perut ibu
Anak-anak yang bermental maling
Sungguh anak-anak yang tak bermoral
Yah,inilah kisah negeri ini,juga kisah kita malam ini
Lekaslah kita tuntaskan
Sebelum ayam jago terbangun,menghadiahi pagi untuk kita
Sebelum bapak- ibumu mendobrak pintu kamarmu
Menerbangkan angan kita keawan,dan takkan pernah kembali

Kau menertawakan waktu yang hanya seupil
Menyelinap di ketiak malam
Atau menyusup dilipatan antara kesibukan
Tak seorangpun boleh tahu itu
Hanya seupil wilayah waktu yang kita miliki
Aahh...Di negeri ini memang semua sudah gila
Sama seperti kita
Matamu memejam saat aku berlari kepuncak, malam berpeluh
Semoga benih yang kutanam di rahimmu

Kelak menjadi anak yang jujur,bukan bermental maling
Kau malah nyengir kuda
Bagaimana bisa,Orang kita sendiri maling pa!
Menelikung,mencuri-curi kesempatan disaat sepi
Kita kan bukan suami istri pa!
Ups!

E.Senaya,Karangasem,Sabtu malam 09/06/2012

MELAYANG TINGGI (PENCAPAIAN)

Melayang
Melintas batas
Melihat jauh luas
Langit biru
Keheningan yang menyentuh ketinggian
Makin tinggi
Dingin
Sunyi nan hampa
Sangat tinggi
Langit menjadi hitam
Terlalu tinggi
Semakin pekat dan gelap
Aku tak dapat melihat
Dan aku hilang ingat

Ternyata aku hanya mimpi!

E.Senaya,Karangasem,Kamis malam 07/06/2012

BERTAHUN-TAHUN YANG HILANG (REUNI SERIGALA)

Bertahun-tahun yang hilang
Dimana rumah
Yang dulu kita tumbuh bersama
Suguhan kelakar pada setiap lapar
Di atas piring
Wajah-wajah penuh sungging
Menanti malam membenamkan
Mimpi-mimpi di bantal
Saat dongengan ditidurkan

Bertahun-tahun yang hilang
Waktu yang panjang
Telah membutakan reuni kita
Rupiah menjadikan serakah
Lapar yang menggila, menjadikan serigala
Menyergap disaat gelap gulita
Dan
Saling memangsa,sesama kita

E.Senaya,Karangasem,Selasa malam 05/06/2012

RAHWANA SEBENARNYA KITA TELAH MATI

Rahwana
Kehidupan macam apa yang kita punya
Mengeksploetasi belantara keluguan mereka
Mempropaganda kemiskinan mereka
Menculik kebenaran mereka
Lalu memperkosa hak-hak mereka
Memanipulasi, dan membunuhi mereka dengan dogma-dogma kita

Rahwana
Sebenarnya kita telah mati
Binasa oleh kesombongan kita sendiri
Dihancurkan oleh ambisi kita sendiri
Kita telah menjadi buta
Dibutakan oleh ego kita sendiri
Hingga kita merasa remeh
Dipermalukan oleh nafsu kita sendiri
Akhirnya, kita merasa terbuang
Ditelantarkan oleh kata-kata kita sendiri
Dan terpenjara
Terperangkap oleh pola pikir kita sendiri

E.Senaya,Karangasem,Jumat malam 01/06/2012

KEJUJURAN ITU

Kejujuran bukan bawaan lahir
Tapi kebiasaan yang dilatih, sejak awal sampai akhir
Dijaga sampai ke Surga,ya!

Kejujuran itu seperti selaput dara
Sangat tipis dan berharga
Sekali koyak
Kehormatanpun rusak

E.Senaya,Karangasem,Minggu malam 27/05/2012

ANAK GADIS

(Puisi ini saya buat ketika istri saya ngambek ingin pulang ke ibunya) Anak gadis
Selembar kertas putih
Yang melepas dari rangkaian buku tulis ibu-bapaknya
Biarkan ia terbang dibawa angin kemana berhembus

Karena ia akan menulisi sendiri
Bait-bait sajak dimana ia berpijak

E.Senaya,Karangasem,Selasa sore 29/05/2012

TERKURUNG DALAM BAYANGKU SENDIRI

Lidahku pahit,jauh dari manis
Mataku hanya melihat ruang kosong,tak berpentilasi
Hidungku hanya mencium amis jantungku
Sedangkan telingaku hanya mendengar dengus nafasku
Aku terkurung dalam tubuhku sendiri

Kadang aku ingin terbang tinggi,ke awan
Tampa bayang-bayangku
Mengadu pada luas yang biru
Berteriak
Berlari
Berseluncur
Melihat
Mencium
Mendengar
Apa saja yang kusuka

E.Senaya,Karangasem,Sabtu siang 26/05/2012

PERSINGGAHAN CINTAMU

Berapa banyak yang tersisa
Cinta yang kau hambur begitu rupa
Di ladang-ladang
Bukit-bukit gersang
Perempuan jalang mendulang intan

Berapa cinta yang kau kubur
Di haltar gadis-gadis terlantar
Pusara-pusara yang gusar
Mengering dimerahnya luka jalanan

Berapa tuba yang kau suguhkan
Tubuh-tubuh sudah tak utuh
Putus langkah persinggahan cintamu
Beratus dusta di katus
Duri-duri yang tandus
menusuk

Mengutuk
Nurani yang mengelupas
Merangas tak terbalas

Berapa tanya kan percuma
Karena nuranimu
Gurun tandus tak berpenghuni

E.Senaya,Karangasem,Sabtu pagi 18/05/2012

IBU BARU

Yang kusebut ibu baru
Adalah batu tak berkalbu
Yang ayah cumbu,berminggu-minggu

Yang kusebut ibu baru
Adalah sembilu
Yang ayah tanam di dagingku

Yang kusebut ibu baru
Adalah mesiu
Yang menghancur-harukan rumah kita
Memupuskan pagi
Mimpi-mimpi yang berduka
Atas neraka yang lahir
Dari rahim ibu baru

E.Senaya,Karangasem,Kamis pagi 17/05/2012

AKHIRNYA AKU SUDAH TAK PERAWAN LAGI

Puisi ini saya tulis untuk Pak Umbu jika puisi-puisi saya diterbitkan di Bali post.Tapi hingga saat ini saya belum pernah mengirimkan puisi-puisi ini.

Robeklah sudah perawanku
Begitulah
Untuk kali pertama
Sajakku mendengus, dicumbu Umbu
Di bilik media Bali Post
Oh, nikmat sangat
Mengaliri nadi
Sendi-sendi terbuka
Melepas begitu saja
Berputar-putar memenuhi dada
Sebentuk cahaya pelangi
Meresapi sumsumku
Dan...
Akhirnya, aku sudah tak perawan lagi
Terimakasih Umbu

Hampir saja aku jadi perawan tua
Melapuk kata, hatipun merenta

E.Senaya,Karangasem, Minggu malam,13/05/2012

BUATLAH LUKISAN YANG INDAH UNTUK KELUARGA KITA

Kukatakan padamu
Tentang hidup ini
Wahai,anak-anakku
Sebegitu dekatnya
Duka yang menetas
Dari rahim kebencian
Fitnah menetes dimana-mana, anakku
Memenuhi sungai-sungai
Cawan-cawan
Menjajakan racun

Anak-anakku
Warna yang kau punya hari ini
Dari ayah
Masihlah sangat orok
Kelak, kaulah yang lihai meraciknya
Lebih cakap memainkan kuasmu
Buatlah lukisan yang indah,untuk keluarga kita
Dengan warna-warni :
Kerendahan hati
Ketulusan
Kasih tampa kebencian

E.Senaya,Karangasem,Selasa malam,08/05/2012

MENGAPA MEREKA SELALU MENGHINAKAN AKU

Wahai,Leluhurku
Sejak kecil,kenapa kau biarkan?
Hatiku selalu terpencil
Dikucilkan oleh keadaan dan ketiadaanku
Tapi mengapa mereka sesalu menghinakan aku?
Apa salahku atas mereka?

Wahai,Leluhurku
Di atas sana,adakah kau dengar?
Kenapa orang-orang selalu mengejekku?
Kenapa orang-orang mencibirku?
Mengolok-olok dan menertawakanku!

Aku bak gadis kecil terluka
Seperti hati perawan yang terhinakan
Padahal,aku singa yang meradang
Aku taring petir Bhatara Indra
Amarahku Bhatara Kala
Siap merobek-robek angkasa
Membakar sehuni neraka

Tapi mengapa mereka menghinakan aku?
Mengapa...?
Mengapa...?
Oh...Mengapa? ...oh...oh....
Oh,Leluhurku yang di atas sana

Ternyata! aku hanya seekor anak burung emprit
Dan masih buta
Masih buta...
Yang jatuh dari pohon
Disiang bolong

E.Senaya, Karangasem-Senin malam,07/05/2012

KAU YANG SEHARUSNYA SUCI

Kau
Yang bersemayam
Di suatu tempat yang rahasia
Tempat yang jauh di dalam...sunyi
Tempat yang tak terlihat
Tempat yang tak tersentuh
Oleh akal
Oleh pikiran
Agar tak gampang ternoda
Tak gampang terluka

Kau
Hanya kau yang masih ada
Untukku
Saat tiada apapun jua
Kau yang selalu ada
Saat luka mengangga,disekujur jiwa
Tapi,aku
Menengelamkanmu
Membiarkanmu terombang-ambing
Di gemuruhnya obsesi
Keruh dan hitam

Lautan nafsu
Rimba yang gelap hati manusia
Kau
Yang seharusnya suci
Mesti menanggung sendiri
Atas dosa yang aku ramu sendiri

E.Senaya,Karangasem- Minggu,30 April 2012

PERTEMUAN KITA

Pertemuan kita,kali ini
Setumpuk malu
Menelanjangi seisi kalbu

Pertemuan kita,macam ini
Mencampakkan mataku
Di kakimu

E.Senaya,Karangasem,Jumat malam,20/04/2012

2010

SELAMAT BERPISAH SAHABAT

(Malam perpisahan PRAJAB Gol III Angkatan VIII 2010) Sahabat Tak terasa,dua minggu berlalu Kita berpacu Dengan waktu Dengan ragu Selalu membelenggu Ada rasa cemas Ada gundah mengelayut Akankah kita lulus? Sahabat Dua minggu kebersamaan kita Ada hati yang kecewa Ada hati yang gembira Itu semua proses sahabatku Sahabat Selangkah lagi Ketika esok pagi merekah Kita akan tahu Kemenangan ini milik kita Sahabat Kuucap selamat berpisah Kini saatnya kau kembali Sebab ada hati yang merindu di rumah Ada cinta yang menunggu Bila nanti Waktu pertemukan kita kembali Jangan lupa Sapa aku Beri aku senyum terindahmu E.Senaya,Karangasem,02/07/2010

KELAHIRAN

Kelahiran..... Proses inisiasi Kelahiran... Kembara di bara api Menuju inisiasi Kelahiran... Membawa kembara Bara api E.Senaya,Karangasem,2010

PENGEMIS JALANAN

Tak terbungkus sungguh Tubuh dan jiwa Dari cerca mata Yang mencampakanmu di jalanan ini Telanjang memang Raga dan hati Karena selapis demi selapis Kau tanggalkan sudah Kulit dan dagingmu Dilumur merahnya lapar Di jalanan Di persimpangan Di persinggahan Penantian... Meniriskan letih Membasuh tulang dan darah Dengan tangan menengadah Pada setiap langkah yang mendekat Kau pengemis jalanan Terbuang dari ruang mimpi Dan teronggok tampa pembelaan E.Senaya, Karangasem-Kamis malam, 27/05/2010

SELAMAT MENGARUNGI SUNYI MAMA

(Untuk Mama Lourent) Berlayar perahu Bertolak ke hulu Menyisir pinggir Menyusuri sungai-Mu jernih Perahumu ke hulu Menuju mata air-Mu Mengalir... Disetiap muara pikir Dan lautan hati manusia Melayari sunyi, sebab Tiada lagi ombak garang menantang buritan Dan rasa asin memerihkan jiwa Ku ucap selamat mengarungi sunyi Mama Sekian lelah meramal ombak Mencermati arah sang bayu Mengatasi badai Dan mengeja mata angin.. Sekian lama Perahumu rapuh Menempuh samudra gemuruh Kini saatnya kau kembali Menuju mata air-Nya nan damai E.Senaya, Karangasem, Rabu malam, 19-Mei-2010

DO`A PETANI KECIL

Tuhan, alirilah ladang kecil ini SungaiMu yang jernih sejuk Tempat gembala memandikan ternaknya Dan gadis-gadis kecil menjingjing bakul cucian Tuhan,hijaukanlah rumputan dan pohonan Di ladang kecil ini Agar anak-anak sapi dapat bertumbuh dengan baik E.Senaya, Karangasem-Sabtu malam, 15/05/2010

PERJALANAN MENGARUNGI SUNYI

Dikesunyian hati ada jiwa yang menghiba Tampa diterang cahaya Do`a dan sahabat,dimana petuah dibasuhkan Jiwa dikehampaan,juga kerinduan Terpisahkan waktu Mengarungi sunyi membawa Luka yang mengangga Dari raga Dari rasa Nurani pun sahabat Ketika sampai waktunya Akan meratapi Karena perjalanan mesti sendiri E.Senaya, Karangasem-Jumat sore, 16/04/2010

PERCAKAPANKU SEPANJANG WAKTU

Bila tiada bisa diajak bicara Tak satupun tempat berbagi Aku bicara pada kata Bercakap dengan sendiri Aku tahu aku tiada mampu Tuk bahasakan diri Tak pernah mampu lukiskan Rasa betapa aku ingin.... Bercakap dengan apa Dan dariapa yang ku punya Maka kutitipkan itu semua Melalui sajak-sajakku E.Senaya, Karangasem,Kamisjelang sore, 31 Maret 2010

KAU YANG MENJADIKANMU

Kau Yang menjadikan awan kelabu Di sudut malam sunyi Atau yang menjadikanmu putih Sekilau mentari Kau yang mencari Bukan siapa yang memberi Bukan pula hadiah semata Dari pinta tampa daya Merampas harga nafas raga Dan pupus dalam keputusasaan Kau pula Membiar nafsu liar membakar Atau menyulut do`a Menyalakan lentera mantra Karena-Nya Pintu dibukakan Jalan dibentangkan Dan kaulah tentukan hingga Yang lain menyebutmu Setelah kau menjadikanmu E.Senaya, Karangasem-Selasa malam, 30/03/2010


2009

PADAMU

Apakah ada bedanya Sebelum dan sesudahnya Pencapaian itu Karena kesedihan yang dalam Tersembunyi di dasar jiwa Meluka tak terperikan Telaga pusaran... Air mata Memenuhi bentangan waktu Dan kau bak teratai hiasi jiwaku E.Senaya, karangasem-tengah malam, 27/10/2009

PULANG KE KAMPUNG HALAMAN

Masih tentang kunang-kunang Dan kebun ilalang Sementara bulan menggantung Dan langit malam disandarkan begitu saja Seperti saat kutinggal dulu Masih tentang orang-orangan sawah Angin petang mencium wajah Di atas pematang menengadah Memeluk malam kekasih yang lama hilang Aku pulang,sayang Mari kita berdendang Nyanyi jangkrik bintang-bintang Seperti malam-malam terdahulu Saat kita kanak-kanak dulu E.Senaya, Karangasem-Kamis malam, 27/08/2009

AKU DAN AYAH

Ketidak tahuan akan kita Adalah kemalangan Pada setiap pertemuan kita Tegur sapa,tiada mampu mengeja kata Mencerna dengan akal pikiran kita Padahal dada kita terbelah sudah Ayah... Aku ingin berenang dan menyelam Sampai kedasar ruhmu Mengikatkan sekeping rinduku padamu Namun kebekuan Waktu yang membatu Entahlah… keperihan ini menyesak sangat E.Senaya, karangasem-Selasa pagi, 25/08/2009

AKU BUKANLAH PIKIRANMU

Aku bukanlah siapa yang dipirkan Dan dari apa terpikirkan Juga seperti apa pikiran Mengakar dan melingkar-lingkar di pikiranmu Hanya aku semata bukanlah pikiranmu Hanyalah aku,atau hanya akan kebingungan Mencakar hati lalu mengoyak pikiranmu Sebab Aku bukanlah pikiranmu E.Senaya, Karangasem-Kamis malam, 20/08/2009

DALAM PELUKANMU

(Trimakasih Nenekku tercinta ) Dalam pelukanmu Ada berjuta mata air Mengucur deras dari dingding-dingging hatimu Saat aku kering dan haus akan kasih Dalam pelukanmu Berjuta-juta bintang Memandikanku Saat aku tercampakkan dan terhinakan Dalam pelukanmu Ada jembatan pelangi Menghantarku terbang Saat aku bingung harus melangkah Menggapai ingin itu Dalam pelukanmu Aku punya lentera,hangat Menjaga tidurku Kala gelap malamku Dalam pelukanmu Aku punya singasana emas Dijaga para Dewa Saat kuharus berlindung Dari bengisnya hidup E.Senaya, Karangasem-Minggu sore, 16/08/2009


2008

KEMENANGAN INI UNTUK SIAPA

Kemenangan ini menjadikan apa? Hanya janji! Menjadikan awan Lalu perpesta hujan Dalam rengkuh seluruh Armada kata tak bernahkoda Berputar-putar Seperti jantra Kemenangan,seperti apa? Anggur dan pesta pora Demokrasi lah perayaan taburan permata kata Timbunan mata telinga Kosong melongo Lalu sepi tak berpenghuni Kemenangan ini untuk siapa? Tinggalah wajah-wajah muram Sekelam padam Dalam nampan,suguhanmu Di jendela Menatap awan seperti cawan Saat kemenangan dituang Dengan kesombonganmu E.Senaya, Karangasem-Senin pagi,10/11/2008

KEBENCIAN

Kebencian itu Pergulatan api dalam diri Liar membakar ladang gersang Perhelatan panas nan garang Lalu sesal dalam arang Dendam menghangus Menjilat tubuh berbalut dosa Dosa dari lahir Lahir dibawa takdir Pergulatan Api Api dendam karena benci Benci neraka sebelum mati Jangan birakan bertumbuh sebelum menghangus segala tubuh E.Senaya, Karangasem-Rabu pagi,08/10/2008

PENDAKIAN BUKIT LEMPUYANG

Selangkah demi selangkah Mimpi dan pendakian Menapak undak-undak kesekian Memunggut satu-satu,jejak kaki Berserak sepanjang siang Di Bukit lempuyang Sebentar! Seberapa langkah lagi Ia menunggu Menghunus kabut tipis Yang mengikis letih dan dahaga Seperti naga yang melingkar di akar bambu Lenggok belukar lelehan embun Permata Mpu Gnijaya Ditingkahi Wanara Bergayut di Kening dan ayunan bajra Belantara Do`a Dimana Jiwa mengalir Memenuhi Mimpi dan pendakian Jiwa-jiwa kesekian Di Bukit Lempuyang E.Senaya, Karangasem-Selasa Senja,07/10/2008

KENANGAN UMANIS GALUNGAN DI TAMAN TIRTAGANGGA

Taman Tirtagangga, Umanis Galungan 1991 Sejuknya air mengaliri mata kaki Jernih memapah, duduk di tepinya Tuk membasuh hati Beratus pasang mata Mencebur ke dasar telaga Mengejar ikan-ikan kecil Lalu menangkapi riak air Dan aku larutkan tawa di buihnya Damai... Telaga berkilau Disinari mentari belum meninggi Saat Berpasang-pasang mata, hati Berenang mengitari arusnya, halus Jernih... Sejuknya menunjuk, sentuh jemari Dan aku larutkan tawa di buihnya Bersama lagu,"Ini Rindu dari Parid Harja" Umanis Galungan 1991 E.Senaya, Karangasem-Selasa jelang siang,07/10/2008

AKU PENGECUT

Takut, tak pernah surut Adalah aku, seorang pengecut Ditelan gusar melingkar-lingkar Digurauan para pembual Aku hina Dalam lara fana Diseret karam kalut Tak pernah surut Dan aku hanyalah pengecut Dibawa takut berlarut-larut E.Senaya, Karangasem-Jumat siang,03/10/2008

GONGGONGAN DI TENGAH MALAM

Ah, gonggongan itu lagi Seperti malam panjang sebelum itu Dan selalu ada yang terjadi Sepanjang sebelum pagi Entah kebanggaan? Tuh! kan? gonggongan itu menjadi lagi Memuncak... dan dihenti lalu berganti ...lolongan...sayup ditelan sunyi Seperti malam itu Memilu...beku...di balik kelambu E.Senaya, Karangasem-Sabtu pagi, 20/09/2008

BUNGA PERPISAHAN

Bunga setangkai Dalam seteguk hati lunglai Hanya tuk gapai senyummu Kala gundah ratapi kalbu Jangan ucap selamat tinggal Pada bunga yang meluruh Pada mimpi yang kita daki Pada janji disaat pagi Ini hanya persimpangan Dari jalan yang kita tempuh Sebab bunga yang tertanam di hati Kembali kan merekah Bila saatnya nanti Selamat menggapai cita kakakku sayang Kusembahkan bunga setangkai Mengiringi langkah melambai Dan semoga anganmu tercapai E.Senaya, Karangasem-Rabu malam, 28/05/2008

PUSPA BUMI

Persembahan dari inti bumi Untuk kasih yang menetes di atas sana Terlahir dari cinta yang murni Cerah mencurahi hati yang merindu Kusebut kau puspa, anugerah dewata Dipuja kala senja merona Terrindukan di awal pagi menjelang Perwujudan yang tertunda di jiwa Biar kubahasakan indahmu, merangkai wangi Lewat sajakku Bukti tulus cinta yang menghembus Hingga dapat tersentuh seluruh E.Senaya, Karangasem-Rabu malam, 28/05/2008

MENYONGSONG MALAM DENGAN DAMAI

Tak pernah senja meratapi kesendirian Kesunyian nan bening menjadi milik... Gelap yang melekat Dan mengembara dengan batin Menyusuri garis mata yang memincing Langit masih ada untuk kita Sendiri hanya sementara sebab Senja akan berganti Bintang-bintang disuguhkan Temarami hati Ritual malam jangkrik dan belalang Adalah persembahan Ritmis menghantari penjaga kosmis Menidurkan buana fana Malam adalah muara dari letih kita Setelah sekian mengayuh cita Menyusuri arus kehidupan Kadang seperti jeruji Kini sudah saatnya menepi Karena senja semakin renta Dan malam akan menenggelam Meleburlah dalam malam untukmu Agar dapat kembali pada peraduan-Nya Dengan damai E.Senaya, Karangasem-Rabu siang, 16/04/2008

GARUDA RAJA

Bertengger di pucuk-pucuk langit Di pucuk-pucuk musim Di puncak kejayaan semata Memenjaramu dalam iba Tiada iklim yang mengenalmu lagi, sayang... Pun musim selalu mengulang kesedihan yang sama Menuntun cuaca dalam siklusnya Demikian juga janji, berulang lalu terbuang Hanya mengisi sisi ruang Mata yang melompong Dan kau yang terhempas Yang telah hilang Dalam sayap yang membentang Mata segarang halilintar Membakar samudera Merajai angkasa raya Mencengkram tujuh langit malam Dalam sekepalan Hingga mimpi di bumi pupus Seperti ingus, hangus di kakimu Hingga sampai siklusnya nanti... Kau dapat fahami Sebab Kau hanya sendiri Meratapi sunyi E.Senaya, Karangasem-Jumat siang, 28/03/2008

SETEGUK RINDU DI TERMINAL BATUBULAN

Selalu kutitip ruh jantan Di jok bus melaju Mengejar rindu seperti serdadu Walau desing peluru memburu Tekad itu tak pernah ragu Buka kaca jendela Pohon-pohon berkejar Menari di rautmu dulu Sebentar lagi... Terminal Batubulan menyongsong Peraduan,mimpi-mimpi kita bergumul Seperti terdahulu Dihiruk pikuknya lalu-lalang Merayakan perjamuan kita Seteguk hangatmu Mengentaskan dahaga Semerah tembaga Seperti terdahulu Kutitip ruh jantan Dalam deru bus melaju Karena kuyakin, Kau pasti sudah menunggu Dengan gelora hangatmu Sekencang mesin berpacu E.Senaya, Karangasem-Rabu sore, 12/03/2008

GUNDAHNYA MALAM DI TEPIAN TELAGA CANDIDASA

Sampailah malam merayapi Tepian telaga Candidasa Mataku berenang berputar Berkejar mematuki ikan-ikan kelelahan Semalaman, suntuk meratapi kebekuan Di lingkar gundah membelit Dan hati dingin menggigil Diguyur galau yang parau Dalam dekap lekat Tubuh indahmu Sosokku membiru Ditelanjangi tatap burung hantu Ya ampun...aku Cuma menunggu Tiada sanggup memenangi Pertempuran di dada menyesak benak Perempuan menyandar pasrah Oh! Malam menenggelam sendiri Menyentuh dasar telaga Riaknya air dingin...membeku di balik baju “Membutakan” bibirku Kemana arah berucap? Dan Kerongkongan terhimpit bongkahan es Saat menancapkan kata di akar telingamu ²,Aku mau, jika kamu inginkan malam ini !², E.Senaya, Karangasem- Minggu siang, 09/03/2008

KABAR DARI MEJA BATU

Dari meja batu berdebu Menuju-Mu Kusembahkan hasil bumi Juga cinta Jerih payah iklim dan musim Kupuja diri-Mu dengan sahaja Karena sungguh telanjang jiwa dan raga Tak malu, kami bukan tak beradab Karena itu milik kami Mengalir dari kalbu terindah Terlahir dari rahim pikiran terlugu Kami hanya manusia batu Segala rasa mengeras dalam batu-batu Milik masa lalu Kini kupuja diri-Mu, dengan sombong Dalam keangkuhan Dalam kemegahan Karena diri-Mu di seberang Milik perahu-perahu Sementara kami saling beradu Demi kebanggan semu Adakah malu? Kini kami hanya meja batu Terkubur dengan bisu Milik masa lalu Dikenang sambil lalu E.Senaya, Karangasem-Sabtu pagi,08/03/2008

PENGANGGURAN INTELEKTUAL

Di sepanjang lengan waktu Bagaimana meniti Menyusuri iris-iris nadinya Setiap detik Derit pintu menyayat Di ruang-ruang hati mencari pentilasi Pengap dan senyap menyengat Inikah dunia?,milik siapa? Langkah pasrah berserah Menuntun arah yang menjarah isi kata Lalu hilang tanpa linangan air mata Kita milik siapa? Atau kita hanya kerumunan pembodohan intelektual? Berjejal titel mengungkung Harga kerjapun setinggi Akademisi Tak jamin konpensasi pula Adakah makna setelah Saat bendera dikibar Dengan tubuh renta berdiri di hadapnya Tak ada yang bisa diucap Sekian umur disekap dalam pembodohan Menunggu pintu waktu ke waktu Hingga uzur... E.Senaya, Karangasem-Rabu&Kamis,05-06/03/2008

TANPAMU AKU TAK MAMPU

Seperti bayangan itu Betapa aku tak mampu Melepas sosokmu Dan aku tak lebih seberkas debu Dalam kilaumu yang jernih bercahaya Tanpamu Seberapa tangguhnya aku Pun kan terkapar Di jalan ini penuh memar Yang membakarku E.Senaya, karangasem-Selasa sore, 26/02/2008

TENTANG KETIDAK MAMPUKU

Aku hanya ingin menangis Tentang ketidak mampuku Menuntun awan dan menyemai hujan Di atas kertasku tandus Sobekan dan coretan Luka lama Mengiringi jejak waktu Seperti itu Lembar ke lembar Gersang dan merangas E.Senaya, Karangasem-Selasa pagi, 19/02/2008

DRAMA LAHIR DAN MATI

Yang datang menangis, memecah tawa Yang pergi tertawa dalam diam, memeras duka Seperti yang datang Seperti itu pula yang pergi Tapi yang datng bersambut tawa Dan yang pergi beriring tangis Yang datang dan pergi Tawa dan tangis silih berganti Mendatangi fana Lalu tinggalkannya Itulah drama lahir dan mati. E.Senaya, Karangasem-Jumat pagi, 15/02/2008

HUJAN SEBARIS

Hujan belum juga turun Kotaku terdiri dari tiang busuk Menuding langit penuh peristiwa Biarlah tak nampak Dihapus embun dan mendung menggulung Menengadah lelah kerumunan Dengan nafas panas mengganas Berpuluh tahun kebingungan Melukis awan mengharaf hujan Hujan lekaslah turun Walau sebaris Menyejuki kotaku yang menggurun Tanpa atap hanya tiang membusuk Hujan Akankah kau datang Kapan? Mungkin sampai hujan sebaris itu mortir?! E.Senaya, karangasem-Senin sore, 11/02/2008

DIMANA CINTA MENUNGGU?

Andai cinta hanya menerima Pasrah untuk didapatkan Karena cinta juga memberi Perlu diburu sekurun waktu Tak tentu juga menunggu Mesti pun tak mesti Tak jauh pun tak dekat Gawatlah bila tersesat Kemana? Susah mencari, ditempat yang tak mengharafmu Dari siapa, yang kau tersia Temulah di tempat yang mendambamu Dari sekian waktu tersisa hanya kamu Tapi... Kau hanya bisu melugu Membiar waktu menggerutu berlalu E.Senaya, Karangasem-Rabu siang,06/02/2008

KAU YANG TELAH LALU

(Selamat jalan pak Harto, 27/01/2008) Akhirnya kau pulang jua Setelah sekian menjuang Kulihat wajahmu pun hatimu penuh luka Nanah melumur dimana-mana Senyummu sangat lelah dan ringgkih anakku Air mataku sarat menetes Bukan kesedihan Tapi tanda kemenanganmu Biarlah membasuh perih lara Nestapa itu tidak panjang anakku Salahkan ibu melahirkanmu Membebankan tugas negeri ini padamu Membelenggumu dalam dosa papa Dan kini kau terbebas anakku Setelah sekian merindu Usah ragu, itu telah lalu Damailah dalam peluk ibu E.senaya, karangasem-Senin pagi, 28/01/20008

TERSISA HANYA PUISI

Mengapa dituang dalam puisi Tentang sungai jernih mengalir Adakah kelak menyisa sebutir, di bibir cangkir Hingga dahaga terlupa Mengapa menuai puisi Tentang padi menguning di sawah Atau tentang sudut bibir perlahan mengering Saat piring menggiring lapar Mengapa hanya puisi Tentang hutan lebat tinggal sekelebat Tentang padang ilalang membentang Kemudian hilang terbawa awan Mengapa bercurah dalam puisi Tentang rumah kita tak ramah Berlimpah sampah sebagai upah Ditinggal pergi seisi huni Mengapa pun puisi Tentang bumi gerah, panas menggerah Tentang emisi mengarah Menjarah apapun seluruh Mengapa? Kemana bumi dibawa pergi Karena seisi kan meratapi Dan tersiksa hanya puisi E.Senaya, Karangasem-Jumat siang, 25/01/2008

KENALILAH DIRI

Mengapa? Membiar diri terbelenggu Diperbudak, di puncaknya ego bertahta Bila panca indera tak dapat dipercaya Hanya nurani teryakini Bersandar pada seyakinnya hati Biarkan kesadaran menerang Lihatlah pada diri sebisa kuasa Kenalilah Dan sadarilah diri Lalu coba tuk mengerti Memang Melihat orang lain, tak sesulit melihat diri sendiri Pun kekeliruan dalam melihat orang lain adalah patal Dan menghukumnya menurut dalil sendiri, sesungguhnya telah memenjarakan diri sendiri Sebab sesungguhnya mudah memaafkan orang lain Tapi tak mudah memaafkan diri sendiri E.Senaya, Karangasem-Rabu (23/01/20008

MENJAGA HATI

Bila dapat termengerti diri Tentu tak kan ada sendiri Karena mengerti memerlukan hati Dan hati tiada bisa terpungkiri Maka jagalah hati dengan sejati Jika dapat ternyata hati Rela pupus tuk teman berbagi Buka mata biar tak merana Acuhkan sangsi, hanya hiasan sepi Sebab cinta menerang, dimana lara bersembunyi Dekap eratlah hati, agar tiada teringkari E.Senaya, Karangasem-sabtu-Minggu pagi, 19-20/01/2008

KAMU DALAM GENGGAM

Yang licik dan menjijikan Meracik alur, di tengah kebingungan publik Trik dan intrik kotor seakan bijaksana Karena ada pembenar palsu Dan itu selalu membuat kita ragu Kamu dalam genggam Dibenam dalam anganmu sendiri Karena yang ia beri hanya ilusi Akhirnya sepi dan mati Yang gemuk meraup seluruh, bak kesurupan Tiada harafan untuk yang terkebelakang Ini bukan kutukan Kaulah sendiri yang tentukan Bukan pasrah berserah Pada yang serakah E.Senaya, Krangasem-Jumat pagi,18/01/2008

SISI PEREMPUAN yang terindah

Kau menawanku ke sisimu yang terbuka Bertancaplah kagumku menembus tubuhmu Betapa kau dianugrahi sosok seribu Yang tumbuh dari bunga surgawi Melambungkan angan lelaki ke tujuh langit awan Bila kau bertelanjang, Berjatuhlah para Dewa ke bumi Di anugrahi buah dada mengkal dan pantat sekal Menyejukkan mata dan merekahlah gaerah Buah dadamu bergoyang, seluruh gunung runtuh Pantatmu berayun, mabuklah seisi samudra Dan karangangpun remuk Ingin ku gagahi seisi perempuan di bumi Ku kuliti indahmu sampai ke usus halus Hingga terjelas sisimu bulat Yang terhalus aku elus, aku jilat Dan aku reguk sampai ke ubun-ubun Agar aku rasa hangatmu mengaliri sumsum Dan ijinkan aku menyusup ke dalam batinmu Biarlah aku mabuk Biarlah aku remuk Biarlah aku membusuk Dalam pelukmu, Perempuan E.senaya, Karangasem-Rabu-sore, 16/01/2008

TAK PUNYA JATI DIRI

Aku selalu saja tak enak hati Bila melihat lelaki berpenampilan pasti Aku pun sering menyalahkan sendiri ²,Walah, aku selalu terlihat banci.², Aku selalu merasa bersosok daki Bila berhadap perempuan seksi Aku malah lebih suka mengumpat diri ²,Buset! Kuatkan hati!², Aku selalu prustasi Melihat teman telah beristri Punya usaha sendiri dan cukup gisi Ada juga yang malah pegawai tinggi Bisa beli semau sendiri Itu Bapakku beristri empat Pamanku istrinya tiga Kakekku paling banyak Adik dan sepupuku sudah beranak Malah kepingin banyak Sedang aku menikahi sepi Tak punya jati diri Dan kurang gisi E.senaya, Denpasar,selasa 15- karangasem,rabu 16/01/2008

KEPAK-KEPAK JANJI

Kepak-kepak janji Beterbang, dari satu gerbang menuju gerbang Dari pintu waktu, pulanglah ke waktu Melangkahi lelah Memapah pasrah Menjemput, mata basah dalam rekah Menanti janji terbangkan tinggi Kepak-kepak janji Di mahkota nyanyi surgawi Menyemai mimpi, senyum bidadari Terberkati dan ternanti Kadang meratapi Kepak-kepak janji Jagalah hati menanti Lindungi perasaan nanti Biar tak meluka Dikemudian hari E.Senaya, Karangasem-Minggu sore,13/01/2008

APA KABAR RINDU?

Hem! Aku meraba paha Merogoh kantung celana Hand phone meneriaki aku Ingin kucumbu lekas Lalu kuhirup napas rindu di seberang Sesaat pun telah kupeluk suaramu Merintih lirih Dihimpit sinyalnya tersengal Kuhirup suaramu lebih dalam Sampai ke pangkal akal Menyentuh akar pikiranmu Yang mencakar pendengaranku Kupeluk lebih erat lagi Kulumat setiap kata dalam dekap Agar rasa hangatmu nikmat Hingga kan menancap ke dada Menggelora rindu Hallo! Apa kabar rindu? E.Senaya, Karangasem-Sabtu sore, 12/01/2008

SUATU HARI KAU AKAN MERINDUNYA

Tengoklah sejenak langit negeri Matahari itu menyipit di ujung senja Deras menghimpit cakrawala Tinggal sedetik lagi ia akan roboh Seperti samudera terhempas di karang Media massa berkicau parau Lidahnya menjilat-jilat angkasa Berselimut mendung Bintang lima luruh ke tanah Seperti daun kering rapuh Ada tawa berkejaran di balik awan hitam Ada tangis sesegukan dihembus angin Ada banyak mata kosong memandang ke awang-awang Ada banyak bibir sengit meludahi langit Ada juga doa-doa melantun mengayun palu Semua itu Atas namakemulyaan Atas namaKekaguman Atas nama kepanikan Atas nama kepedihan Atas nama kemurkaan Entah apa lagi? Berhambur seperti terbangan debu Mencocoh mata pertiwi Sampai saatnya nanti... Pertiwi: " Suatu hari kau akan merindunya!" E.Senaya, Karangasem-kamis siang, 10/01/2008

BERI AKU PAGI DAN HUJAN

Beri aku pagi Maka akan ku ubah dirimu menjadi nasi Dengan nasi kau akan menjadi lebih manusiawi Beri aku hujan Maka akan ku antar menggapai harafan Dengan harafan kau akan bermasa depan Semasih ada pagi Semasih ada hujan Akan ku buat dirimu menjadi manusiawi Dan ku antar menuju masa depan Sebab pupuk biarlah membusuk Di benak para maniak di kursi empuk E.Senaya, Karangasem-Rabu pagi, 09/01/2008

SEMUA ADALAH MILIKMU

Tuhan... Aku mulai sedikit mengerti Kalau saat aku belum memiliki Sesungguhnya aku telah memiliki Dan Setelah aku memiliki Sesungguhnya aku telah kehilangan Semakin aku memiliki Maka aku,akan semakin kehilangan Semakin banyak aku memiliki Maka aku,akan semakin banyak kehilangan Aku pun tersadar Ternyata aku tidak memiliki Karena semua adalah milikmu E.senaya, Karangasem-Rabu pagi 05/12/2007& Selasa pagi 08/01/2008

TELAGA KECIL BERTUBUH KECIL

Tuhan... Ternyata tempat indah itu Adalah telaga-telaga kecil, bertubuh kecil Yang KAU tanam di rahim ibu Dan bertumbuh sewangi bunga Telaga-telaga kecil Sejuk dan jernih Dalam kepala-kepala kecil Sekilau mahkota-Mu Telaga-telaga kecil Teduh nan damai Dalam hati yang perawan Senyaman taman surga-Mu Siapa yang tega mencemari?!! E.Senaya, Karangasem-Selasa pagi 08/01/2008

SANGGUPKAH?

Sanggupkah?menapaki sendiri Di rimba mistis yang memiris Tercecer di jalan sengeri gergaji Langkah terparut habis terkikis Perih... Disini logika terluka Dipermalukan dengan kejam Tanpa perlawanan Hanya bisa memejam Dan meratapi dengan geram E.Senaya, Karangasem-Senin sore,07/01/2008

PEREMPUAN TELANJANG DI DALAM GELAP

Berhentilah mengharaf dalam gelap Karena sesungguhnya yang kau lihat Hanya gelap berjubah hitam Membujur disepanjang benakmu Sebab tatap diyakinkan haraf Itulah perempuan bertelanjang di dalam gelap E.Senaya, Karangasem-Sabtu sore,05/01/2008

APAKAH KAU KEKASIHKU?

Kau kekasihku Kerap kuminta tuk menujuku Kau pun terpaku Kuharaf ada rindu Saat kusentuh bahumu Tapi kau hanya termanggu Dan itu membuatku ragu Apakah kau kekasihku? E.Senaya, Karangasem-Sabtu pagi, 05/01/2008

KAU MALAIKATKU

Aku ingin kau selalu menunggu Di muka pintu dengan rindu Bukan aku ketuk pintu Membeku dan berlalu Aku ingin kau terluka Bila kita tiada bersua Karena waktu adalah rindu Dan itu selalu untukku Aku ingin senyum tulusmu Setia mengembang disaat petang Tentramkan malamku Seperti ibu yang merindu Sentuh aku dengan lirih Bisikkanlah...aku dalam pelukmu Hingga malam terbang keangkasa Bersamaku, kau malaikatku E. Senaya, Karangasem-Jumat malam, 04/01/2008

31 DESEMBER MALAM

Teriak malam riang Girang terompet genit menari Riuh pesta milik jalanan Meledak diurai kembang api 31 Desember malam Habiskan tercurah Laluilah sampai keujung malam Beratnya hati terlewati Janji Januari telah menanti Rayakan dengan pesta Hingga larut tawa dan terompet Dipenghujung 31 Desember E.Senaya, Karangasem-Kamis pagi, 02-03/01/2008

AKULAH PECUNDANG

Hanyalah pecundang Yang lelap di tengah siang Mimpi seterang bintang Hanya menunggu petang Akulah pecundang Yang lelap sepanjang siang Di matamu dan bintang-bintang Akulah hai, pecundang Hanyalah aku..... Pecundang E.Senaya, Karangasem-Rabu pagi, 02/01/2008


2007

MAAFKAN AKU MEMBENCIMU

Kau hanya jiwa-jiwa terluka Merajut tawa Dan aku tergeletak Dipangku tawamu Diguraumu aku tercabik seribu Aku tak terbuat dari batu Dan kau tak tahu malu Lihat senyummu, setajam belati Berlumur dengki Dibalut candamu Lihat kelakarmu, terbentuk dari sekeping pilu Ketika lara membeku Menghiba dalam sunyi Sungguh kasihan... Aku tak terbuat dari batu Dan maaf aku membencimu E.Senaya,Karangasem, Minggu pagi, 30-Des-2007

SIKLUS LANGIT

Dikegelapan,langit pun menjadi terang Berputar dan terbakar Berpijar lalu pun pudar Dan kembali Menjadi ada Karena telah tiada E.Senaya,Karangasem, Selasa sore, 25-Des-2007

MENUJU JALANKU

Di jalan semakin garang Menapaki walau tak pasti Aku kecil dan tertatih Mencoba memungguti jejak-jejak yang terserak Ada sosok yang berlari di depan Di jalan yang searah Mestinya nafasmu alirkan cinta Agar dapat kupuja selagi bisa Di jalan semakin garang Aku menuju Biar langkah tak pasti Awal ini sungguh berarti Mohon kau mengerti Tak perlu ada termaki E.Senaya,Karangasem, Selasa pagi, 18 Des 2007

AKU DAN KAU

Aku hanya batuk Waktu kau manggut-manggut Aku manggut-manggut Kau malah kentut E.Senaya,Karangasem, Senin siang, 17 Des 2007

GARUDAKU

Kepakmu terseok dilangit berkelambu Tampa elu ibu berlalu Di atas pulau berbongkah-bongkah Gerah melantun kisah orang-orang serakah Jengah tengadah Matamu hanya barisan bisu Menyusur titian kian uzur Mana cerita makmur Dicumbu sumpah jaman uzur Sebab banyak darah tercurah Tapi masih saja serakah Garudaku Berlalu tak tentu Kepakmu kian tanpa arah E.Senaya,Karangasem, Senin siang, 17 Des 2007

KAU DAN MALAM

Bila Kau datang Malampun serta Bila kau terdiam Malampun Tenggelam Bila Kau tertawa Bintangpun terbit Bisikanlah rindu padaku Lalu tuang malam dalam gelas Reguk sesaat dan rasalah Malam manis dalam rindu Kau dan malam Adalah rindu Kau dan malam Selalu kutunggu E.Senaya,Karangasem, Minggu siang, 16 Desember 2007

AKU DAN PERAHU-PERAHU

Aku tanpa kata Pun perahu-perahu Juga batu-batu Dihadap biru, haru Ombak beringas mencabik tepian Aku dan perahu-perahu Luruh dalam gemuruh Miris diurai buih-buih Aku dan perahu-perahu Tanpa kata Juga pantai Merangas... Hanya batu-batu Tanpa baju E.Senaya,Pantai Jasri, Karangasem,Senin sore,10/12/2007

AKU DAN LANGIT SENJA

Mega putih bersepih Indah... Bak naga beriring Berjubah keemasan sinar surya Dihampar luasnya,birumu menjingga Aku memandang senjamu Saat burung pipit melintas Sang nagapun mengibaskan angin Hembusan dingin Menghambur nafasku di daun pohonan Dekaplah aku senja Sembuhkan lelah menghitam Dijaga naga-naga E.Senaya,Karangasem,04-08/12/2007

PERCAKAPANKU DENGANMU

Aku bertumbuh denganmu Tak terpisahkan oleh waktu Tapi aku acuh akan kebersamaan kita Aku tak pernah menyapamu Tiada keinginan tuk menyenangkanmu Aku dan kau dibalut takdir tuk setia Tapi aku selalu menghianatimu Aku selalu egois akan inginku Kau kekasihyangmalang Aku selalu membuatmu meradang Hari ini kita bercakap Ijinkan aku menangisimu Jika saatnya takdir diakhir Kutitipkan dosa papa ini, lalu Sirnalah aku Sisakan sesal dalam abu Maafkan itu menghantarmu Kau kekasihku menuju sejati E.Senaya,Karangasem,Desember 2007

AKU INGIN

Aku ingin berlari di pucuk-pucuk pohon Bercengkrama bersama burung-burung Dan Memainkan angin Aku ingin tidur beralaskan embun Saat mentari ramah menyapa Lalu memandikan pagi Dengan sinar keemasan yang kupetik didaunan E.Senaya,Karangasem,Sabtu pagi 01-12-2007

TUNJUKAN PADAKU

Tunjukan padaku,tempat indah itu Ditumbuhi bunga dan telaga jernih Tunjukan padaku lagu merdu itu Hingga kulelap dalam nyanyi-Mu Tunjukan padaku Kasih sayang itu Hingga kumerasa nyaman dan tentram bersama-MU Tunjukan padaku cinta itu Agar aku dapat mencinta-MU Tunjukan padaku tentang indah-MU Agar aku dapat bertumbuh dengan indah-MU E.Senaya,Karangasem,Sabtu pagi 01-12-2007

AKU HANYA SUARA

Aku suara dalam batu yang mendidih Aku berputar dalam suara-suara perih Aku tak dapat berlari Hanya suara-suara tertatih Aku tak dapat henti Hanya suara-suara menuju hulu hati E.Senaya,Karangasem,jumatsiang 30-11-2007

KALUT

Langit hitam arang Terbakar… Di celah jemari didekap Waktu pun mendidih Perih... Mataku mengelincir ketanah Dikerubuti belatung-belatung,menari ke langit Lalu waktu sekejap membatu Aku senyap haru Tiada rupa,apapun jua Gelap, pengap Kemanalah hendak kutatap Badanpun sudah tak sahabat E.Senaya,Karangasem, 29-11-2007

KEPADA SAHABATKU

Bila masa lalu itu menyisakan kenangan Maka ia akan selalu membuntutimu Kuburlah masalalumu bersama kenangan itu Maka masa depan kan menunggumu di depan Dan itu untukmu sahabatku E.Senaya,Karangasem, 14-05-2007

JIKA LARA BERI CINTA

Jika cinta termengerti Lara pupus jera terlewat Dalam berkeping waktu Pasrah iklas, hati bagai Dewa Jika terbesarkan cinta Hina ternista pun suci berbudi Agung bermahkota bunga surgawi Mewangi... Jika hidup ini hanya sepotong Bersulamkan perih lara Kucinta itu bak permata Hiaskan jiwa untuk semesta Jika lara beri cinta Jika cinta luruhkan kuasa-Mu Biarlah lara itu ada Jika hadirkan wangi tuk semesta E.Senaya,Karangasem, 05-02-2007

ROTI BUSUK DAN PENGEMIS LAPAR

Sepotong roti busuk Terkapar dibantingkan Dan seorang pengemis lapar Di pinggir jalanan kota , ramai nan acuh Teronggok dalam bisu Sepotong roti busuk Dan seorang pengemis lapar Tersia dalam irama waktu E.Senaya,Karangasem, 23 januari 2007

PELANGI DI TENGAH KABUT HUJAN

Hadirmu pelangi Membuat mendung ini indah Hadirmu jua, tuntaslah sudah mendung bertahun Lihat, hujan berbutir-butir Dingin mengalir Bawa hanyutletih bersepih Kaulah indah merona Di tengah kabut Diderai hujan luruh Di jari-jari langit Pelangi Biarlah hujan bersama indahmu E.Senaya,Karangasem, januari 2007

KUMENANGIS KARENA GELAPMU

Sebentar senja membentang petang Malampun mengelayut Tampa temaram bintang-bintang Tampa Dongengan angin di jendela kamar Aku pun dibekukan sendiri Dan Ku selalu terluka karena petang Saat sunyi mengiris jiwa Rapuhku disemaikan malam Maka ku menangis karena gelap-Mu E.senaya,Karangasem 2005

PAHLAWANKU

Malam ini dalam redup lunglai aku datang Remuk redam bak kalah perang Pahlawanku…aku datang Setahun sudah tiada sua Peluk daku, seperti kerap kau lakukan Usah curiga Usah Tanya Usah suara Biar lewat bersama waktu ini bisu Kau pahlawanku Selalu nyalakan api di dadaku Lentera mantra-mantra Raga, hati bersimbah nanah Tercabik koyak berlumur debu Jawab air matamu: ²,kau tetap layak untukku, pangeran!², Pahlawanku Bisik do’a nan rela kau selip di jiwa Tuk berpaling tegak bak tentara Ucap janji waktu kemudian Pahlawanku nan elok sahaja Malam ini aku datang Luka pula, nyaring kuliti matamu Aku kalah bidadari….. Bantu beri aku bentuk Tampa sebut…..pahlawan Peluk aku lebih erat Seperti kerap kau lakukan Biar rasa tangisku E.Senaya,Karangasem, 2005

MENUNGGUMU

Pikir aku bukan tak rasa Hilang waktu lupa hitungan Bila hadirmu takdir Sungging pun kata tentu untukmu Hati gulana Budi tak makna Lama nian merindu bunga di pelukan E.senaya,Karangasem 2005

KALA CINTA BERMADU

Kala cinta sua bermadu Sia-sia berbantah mata lukisan hati Dian hati rona temaram Warna rupa biaskan pelangi Kala cinta mematut diri Batupun wahai elok dipandang E.senaya,Karangasem, 2005


Diperbaharui: 03 December 2017 13:56:56.

loading...

loading...
Di Bawah ini cara Berburu Uang Bitcoin


Bisnis Siap Madan
bisnis Bisnis siap madan yang menguntungkan,modal relatif sedikit tapi menjanjikan untung yang besar...baca.
Ritual Nyeleneh Untuk Menangkal Wabah
ritual Sekelompok orang,lelaki dewasa bergerombol berjalan kaki menyusuri jalan-jalan desa...baca.
Puisi Berbahasa Indonesia
puisi Kumpulan puisi karya dari Eka Senaya yang merupakan kisah perjalanan dan cerminan hidup...Baca Puisi.
Puisi Berbahasa Bali
Kumpulan puisi Berbahasa Bali karya dari Eka Senaya tentang lingkungan Bali, kritik sosial,perjalanan hidup...Baca Puisi.
Karya Sketsa
sketsa Kumpulan karya sketsa dari Eka Senaya tentang kehidupan,alam dan Budaya Bali...Lihat.
Kalender

INPORMASI PENTING

loading...

Di Bawah Ini Cara Menghasilkan Bitcoin di Internet!

Ilmu Agama Hindu

- Doa Sehari-hari
- Memulai beraktivitas 1
- Memulai beraktivitas 2
- Di tempat tertentu
- Gagelaran Balian
- Kakambuh Rare
- Pamegat Sot
- Mantra bebantenan
- Mantra Pemangku
- Sejarah Pr Besakih
- Kahyangan Jagat
- Pura Padharman
- Pura Dadya di Besakih
- pengertian Kamulan
- Fungsi s.kamulan
- Jenis2 s. kamulan
- Cara Mendirikan kamulan
- Nuntun Dewa Pitara
- Piodalan di s.kamulan
- Soroh Sesayut/Tebasan
- Banten Pamelaspas
- Banten Kasanga
- Banten Galungan
- Banten Saraswati
- Banten Pawintenan
- Banten Pacaruan
- Mantra bebantenan
+ Materi Kelas II
+ Materi Kelas III
+ Materi Kelas IV
+ Materi Kelas V
+ Materi Kelas VI
- Sikap Sembahyang Hindu
- Kodefikasi Weda
- Serba-serbi Padewasan
- Tentang Rerainan Bali
- Tata cara Pengabenan
- Jenis2 Perkawinan Bali
- Upacara Potong gigi
- Dharmagita

Primbon Bali
- Menurut Pranatamongso
- Menurut zodiak
- Menurut shio
- Menurut Wuku
- Menurut Lintang
- Tentang Carcan soca

Info Kesehatan
- Jenis-jenis Narkoba
- Ciri-ciri Pecandu
- Cara Cegah Narkoba
- :: P 3 k ::
- Khasiat Tanaman Obat
- Berat,kebutuhan Kalori
- Kalender Masa Subur
- Bahaya Sakit Perut
- Awas Bahaya Plastik

Yuk Sastra
- Chairil Anwar
- Sanusi Pane
- Amir Hamzah
- Kiat Menulis Cerpen
- Contoh Puisi Anak sd
- Contoh Pidato Perpisahan

Ilmu Pertanian
- Cara Stek
- Cara Merunduk
- Cara Okulasi
- Cara Menyambung
- Cara Mencangkok
- Cepat Tumbuh Akar
- Kegagalan Mencangkok
- Insektisida/Pupuk Organik

Pengetahuan Umum
- Apakah Mamalia itu?
- Tentang Burung
- Tentang Reptilia
- Tentang Amfibi
- Tentang Ikan
- Tentang Serangga
- Berkaki Delapan
- Hewan Bercangkang
- Moluska dan Cacing
- Ibukota Negara2 Asia
- Ibukota Negara2 Afrika
- Ibukota Negara2 Eropa
- Ibukota di Amerika & Oceania
- Air Terjun Tertinggi
- Danau Terbesar di Dunia
- Laut Terluas Di Dunia
- Sungai Jembatan
- Gunung Tertinggi di Dunia
- Gurun Terluas di Dunia
- Tanggap G.Meletus
- Tanggap Gempa
- Tanggap Tsunami
- Sejarah G.P.Indonesia
- Lambang G. Pramuka
- Organisasi Gudep
- Pramuka Siaga
- Pramuka Penggalang
- Pramuka Penegak
- Pramuka Pandega
- SAKA
- Tahukah Kamu
- Matauang di Dunia
- Nama-nama Penemu
- Induk Organisasi Olahraga
- Terpanas Di Bumi
- Rumus Kadar Emas
- Peringatan hari penting
- Seri nomor Kendaraan
- Gunung2 di Indonesia
- Laut dan Selat di Indonesia
- Sungai Besar di Indonesia
- Danau2 di Indonesia
- Kenapa Terjadi Petir?
- Serba-serbi Manusia
- Kamus Sain SD

Lain-lain
- Silabus
- Rpp
- Administrasi Guru
- Permainan
- Karawitan/Gambelan
- Bali Tempoe doeloe
- Genjek Perpisahan
+ Indik Aksara
+ Indik Kruna
+ Indik Lengkara
+ Indik Paribasa Bali
+ Indik Pangater
+ Indik Seselan
+ Indik Pangiring
+ Indik Anusuara
- Anting Gunung

Ruang Pembaca