Di Sini Cara Pembuatan Website

Promosikan Usaha Anda di sini cuma Rp 250.000 / tahun!

Sastrawan Sanusi Pane

Disunting dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas dan sumber lainnya

Propil Sastrawan Sanusi Pane

Sanusi Pane Sanusi Pane adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru yang karya-karyanya banyak diterbitkan antara 1920-an sampai dengan 1940-an. Lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905

Sanusi Pane adalah anak dari Sutan Pengurabaan Pane, seorang guru dan seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal. Di antara delapan bersaudara, selain dirinya ada juga yang menjadi tokoh nasional, yaitu Armijn Pane yang juga menjadi sastrawan, dan Lafran Pane yang merupakan pendiri organisasi pemuda Himpunan Mahasiswa Islam.

Semasa mudanya, Sanusi Pane menempuh pendidikan formal di HIS dan ELS di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Pendidikannya selanjutnya adalah di MULO di Padang dan Jakarta, yang diselesaikannya tahun 1922. Ia lalu melanjutkan di Kweekschool (sekolah guru) di Gunung Sahari, yang selesai pada tahun 1925. Ia lalu mengajar di sekolah tersebut, sebelum dipindahkan ke Lembang dan menjadi HIK. Ia juga sempat kuliah di Rechtshogeschool dan mempelajari Ontologi. Pada antara tahun 1929-1930, ia berkesempatan mengunjungi India, yang selanjutnya akan berpengaruh besar terhadap pandangan kesusastraannya.

Sekembalinya dari India, Sanusi Pane menjadi redaksi majalah "Timbul" yang berbahasa Belanda. Ia mulai menulis berbagai karangan kesusastraan, filsafat dan politik, sementara tetap mengajar sebagai guru. Karena keanggotaannya dalam PNI, tahun 1934 ia dipecat. Ia kemudian pemimpin sekolah dan guru di sekolah-sekolah milik Perguruan Rakyat di Bandung dan Jakarta. Tahun 1936 Sanusi Pane menjadi pemimpin suratkabar Tionghoa-Melayu "Kebangunan" di Jakarta; dan tahun 1941 ia menjadi redaktur Balai Pustaka.

Dalam bidang kesusastraan, Sanusi Pane seringkali dianggap sebagai kebalikan dari Sutan Takdir Alisjahbana.Sanusi Pane mencari inspirasinya pada kejayaan budaya Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau. Perkembangan filsafat hidupnya itu, sampailah kepada sintesa Timur dan Barat, persatuan jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, serta idealisme dan materialisme; yang tercermin dalam karyanya "Manusia Baru", yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1940.

Sanusi Pane cukup produktif dalam menghasilkan karya kesusastraan, diantaranya sebagai berikut:

  • Pancaran Cinta (1926)
  • Prosa Berirama (1926)
  • Puspa Mega (1927)
  • Kumpulan Sajak (1927)
  • Airlangga (drama berbahasa Belanda, 1928)
  • Eenzame Caroedalueht (drama berbahasa Belanda, 1929)
  • Madah Kelana (1931)
  • Kertajaya (drama, 1932)
  • Sandhyakala Ning Majapahit (drama, 1933)
  • Manusia Baru (drama, 1940)
  • Kakawin Arjuna Wiwaha (karya Mpu Kanwa, terjemahan bahasa Jawa Kuna, 1940)

Sanusi Pane meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968 pada umur 62 tahun

	Dibawa Gelombang

	Alun membawa bidukku perlahan
	Dalam kesunyian malam waktu
	Tidak berpawang tidak berkawan
	Entah kemana aku tak tahu

	Jauh di atas bintang kemilau
		Seperti sudah berabad-abad
	Dengan damai mereka meninjau
	Kehidupan bumi yang kecil amat

	Aku bernyanyi dengan suara
	Seperti bisikan angin di daun
	Suaraku hilang dalam udara
	Dalam laut yang beralun-alun

	Alun membawa bidukku perlahan
	Dalam kesunyian malam waktu
	Tidak berpawang tidak berkawan
	Entah kemana aku tak tahu



    Di Lereng Salak    

Gunung berleret, mulanya hijau,
Lenyap membisu jauh di sana.
Padi menguning bagai kencana,
Sampai di lereng redam berkilau.

Sebelah Selatan dapat ditinjau
Sebagian kecil Lautan Hindia
Laksana tasik dipandang dia
Di bawah perak membiru silau.

Di rumput halus bagai beledu,
Aku guling memandang s’orang,
Bagai minum keindahan alam. 
Teringat kota aku tersedu;
Takut kembali ke tempat orang,
Tak mengenal perasaan dalam. 



	    Candi    

	Engkau menahan empasan kala,
	Tinggal berdiri indah permai,
	Tidak mengabaikan serangan segala,
	Megah kuat tidak terperai.

	Engkau berita waktu yang lalu,
	Masa Hindia masyhur maju,
	Dilayan putra bangsawan kalbu,
	Dijunjung tinggi penaka ratu.

	Aku memandang suka dan duka
	Berganti-ganti di dalam hati,
	Terkenang dulu dan waktu nanti.

	Apa gerangan masa di muka
	Jadi bangsa yang kucinta ini?
	Adakah tanda megah kembali?



    Menanti Kata    

Aku duduk diam semata,
      Membuat batin hening tenang,
Menanti-nanti timbul kata
      Dari dalam, bercaya terang.

Hendak direka jadi karangan
      Tidak terbanding dengan indahnya,
Akan diberi kepada tunangan,
      Penunjuk betapa cinta besarnya.

Berapa datang, semua masih
      Tidak sepadan dengan kekasih,
      Tidak sampai indah permainya.

Akh, ratuku, pabila gerangan
      Mendapat kata yang sepadan
      Dengan cantik paras adinda.




	    Menumbuk Padi    

	Dalam caya bulan purnama,
	Anak dara menumbuk padi,
	Alu arah lesung bersama,
	Naik turun berganti-ganti.

	Badan ramping tunduk berdiri
	Dengan gerak manis selalu,
	Muka cantik berseri-seri;
	Berat kerja mengangkat alu.

	Datang berombak suara salung,
	Cinta berahi cinta kandung,
	Hendak mengambil hati perawan.

	Sebentar berhenti anak dara
	Menumbuk padi, mendengar suara,
	Tersenyum simpul memandang kawan



    Air Mancur 

Air mancur jatuh kuat keras,
Berdebar deru ke atas batu,
Bersimbah buih putih selalu,
Mengalir terus teramat deras.

Keras deras, bersorak berseru,
Mendesah desing, berdengung deruh
Air mengalir membawa batu,
Menggulung-gulung dengan gemuruh.

Gemuruh guntur di tengah rimba
Membuat terasa hening tenang
Di dalam hutan bertambah terang.

Ditekannya berat dasar jiwa,
Dibuatnya hati rindu dendam,
Tetapi tujuan hanya kelam.



    Sajak    

Di mana harga karangan sajak,
      Bukanlah dalam maksud isinya,
Dalam bentuk, kata nan rancak
      Dicari timbang dengan pilihnya

Tanya pertama keluar di hati,
      Setelah sajak dibaca tamat,
Sehingga mana tersebut sakti,
      Mengikat diri di dalam hikmat.

Rasa bujangga waktu menyusun
Kata yang datang berduyun-duyun
      Dari dalam, bukan nan dicari,

Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
      Harus bergoncang hati nurani.


	    Teratai 
   
	Kepada Ki Hajar Dewantoro
	Dalam kebun di tanah airku
	Tumbuh sekuntum bunga teratai
	Tersembunyi kembang indah permai
	Tidak terlihat orang yang lalu
	Akarnya tumbuh di hati dunia
	Daun berseri Laksmi mengarang
	Biarpun dia diabaikan orang
	Seroja kembang gemilang mulia
	Teruslah O Teratai Bahagia
	Berseri di kebun Indonesia
	Biar sedikit penjaga taman
	Biarpun engkau tidak dilihat
	Biarpun engkau tidak diminat
	Engkau pun turut menjaga zaman



    Pagi    
Pagi telah tiba, sinar matahari
Memancar dari belakang gunung, 
Menerangi bumi, yang tadi dirundung
Malam, yang sekarang sudahlah lari.
Alam bersuka ria, gelak tersenyum,
Berseri-seri, dipeluk si raja siang.
Duka nestapa sudah diganti riang,
Sebab Sinar Bahagia datang mencium.
Mari, O Jiwa, yang meratap selalu
Dalam rumahmu, turutlah daku.
Apa guna menangisi waktu yang silam?
Mari, bersuka ria, bercengkerema
Dengan alam, dengan sinar bersama-sama,
Di bawah langit yang seperti nilam.


Diperbaharui: 03 December 2017 14:01:22.

loading...

loading...
Di Bawah ini cara Berburu Uang Bitcoin


Bisnis Siap Madan
bisnis Bisnis siap madan yang menguntungkan,modal relatif sedikit tapi menjanjikan untung yang besar...baca.
Ritual Nyeleneh Untuk Menangkal Wabah
ritual Sekelompok orang,lelaki dewasa bergerombol berjalan kaki menyusuri jalan-jalan desa...baca.
Puisi Berbahasa Indonesia
puisi Kumpulan puisi karya dari Eka Senaya yang merupakan kisah perjalanan dan cerminan hidup...Baca Puisi.
Puisi Berbahasa Bali
Kumpulan puisi Berbahasa Bali karya dari Eka Senaya tentang lingkungan Bali, kritik sosial,perjalanan hidup...Baca Puisi.
Karya Sketsa
sketsa Kumpulan karya sketsa dari Eka Senaya tentang kehidupan,alam dan Budaya Bali...Lihat.
Kalender

INPORMASI PENTING

loading...

Di Bawah Ini Cara Menghasilkan Bitcoin di Internet!

Ilmu Agama Hindu

- Doa Sehari-hari
- Memulai beraktivitas 1
- Memulai beraktivitas 2
- Di tempat tertentu
- Gagelaran Balian
- Kakambuh Rare
- Pamegat Sot
- Mantra bebantenan
- Mantra Pemangku
- Sejarah Pr Besakih
- Kahyangan Jagat
- Pura Padharman
- Pura Dadya di Besakih
- pengertian Kamulan
- Fungsi s.kamulan
- Jenis2 s. kamulan
- Cara Mendirikan kamulan
- Nuntun Dewa Pitara
- Piodalan di s.kamulan
- Soroh Sesayut/Tebasan
- Banten Pamelaspas
- Banten Kasanga
- Banten Galungan
- Banten Saraswati
- Banten Pawintenan
- Banten Pacaruan
- Mantra bebantenan
+ Materi Kelas II
+ Materi Kelas III
+ Materi Kelas IV
+ Materi Kelas V
+ Materi Kelas VI
- Sikap Sembahyang Hindu
- Kodefikasi Weda
- Serba-serbi Padewasan
- Tentang Rerainan Bali
- Tata cara Pengabenan
- Jenis2 Perkawinan Bali
- Upacara Potong gigi
- Dharmagita

Primbon Bali
- Menurut Pranatamongso
- Menurut zodiak
- Menurut shio
- Menurut Wuku
- Menurut Lintang
- Tentang Carcan soca

Info Kesehatan
- Jenis-jenis Narkoba
- Ciri-ciri Pecandu
- Cara Cegah Narkoba
- :: P 3 k ::
- Khasiat Tanaman Obat
- Berat,kebutuhan Kalori
- Kalender Masa Subur
- Bahaya Sakit Perut
- Awas Bahaya Plastik

Yuk Sastra
- Chairil Anwar
- Sanusi Pane
- Amir Hamzah
- Kiat Menulis Cerpen
- Contoh Puisi Anak sd
- Contoh Pidato Perpisahan

Ilmu Pertanian
- Cara Stek
- Cara Merunduk
- Cara Okulasi
- Cara Menyambung
- Cara Mencangkok
- Cepat Tumbuh Akar
- Kegagalan Mencangkok
- Insektisida/Pupuk Organik

Pengetahuan Umum
- Apakah Mamalia itu?
- Tentang Burung
- Tentang Reptilia
- Tentang Amfibi
- Tentang Ikan
- Tentang Serangga
- Berkaki Delapan
- Hewan Bercangkang
- Moluska dan Cacing
- Ibukota Negara2 Asia
- Ibukota Negara2 Afrika
- Ibukota Negara2 Eropa
- Ibukota di Amerika & Oceania
- Air Terjun Tertinggi
- Danau Terbesar di Dunia
- Laut Terluas Di Dunia
- Sungai Jembatan
- Gunung Tertinggi di Dunia
- Gurun Terluas di Dunia
- Tanggap G.Meletus
- Tanggap Gempa
- Tanggap Tsunami
- Sejarah G.P.Indonesia
- Lambang G. Pramuka
- Organisasi Gudep
- Pramuka Siaga
- Pramuka Penggalang
- Pramuka Penegak
- Pramuka Pandega
- SAKA
- Tahukah Kamu
- Matauang di Dunia
- Nama-nama Penemu
- Induk Organisasi Olahraga
- Terpanas Di Bumi
- Rumus Kadar Emas
- Peringatan hari penting
- Seri nomor Kendaraan
- Gunung2 di Indonesia
- Laut dan Selat di Indonesia
- Sungai Besar di Indonesia
- Danau2 di Indonesia
- Kenapa Terjadi Petir?
- Serba-serbi Manusia
- Kamus Sain SD

Lain-lain
- Silabus
- Rpp
- Administrasi Guru
- Permainan
- Karawitan/Gambelan
- Bali Tempoe doeloe
- Genjek Perpisahan
+ Indik Aksara
+ Indik Kruna
+ Indik Lengkara
+ Indik Paribasa Bali
+ Indik Pangater
+ Indik Seselan
+ Indik Pangiring
+ Indik Anusuara
- Anting Gunung

Ruang Pembaca